Menurut laporan emisi karbon di Indonesia yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), di tahun 2009, emisi karbon meningkat tajam sebanyak 10ppm menjadi 382ppm (parts per million) dari 372ppm.

Angka ini mengkhawatirkan. Pasalnya, ketika dicocokkan dengan angka yang dirilis US National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), tingkat pertumbuhan emisi karbon secara global per tahun di 2009 lalu hanya sebesar 1,61ppm.

Peningkatan populasi, pertumbuhan ekonomi dan tidak adanya langkah antisipatif yang signifikan, emisi karbon di tanah air akan terus meningkat. Pada tingkat pertumbuhan ini, Indonesia tidak akan dapat memenuhi janjinya kepada PBB untuk mengurangi emisi karbon sebesar 26% di tahun 2020.

Ecospec Global Technology, sebuah perusahaan riset dan teknologi asal Singapura coba menawarkan solusi. Lewat sebuah sistem baru yang diberi nama CSNOx, Ecospec berhasil menghadirkan sistem yang dapat secara efisien menghilangkan sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOx) dari pembuangan.

Sebagai informasi, SO2 dan NOx merupakan terkandung pada gas buangan kapal besar, pusat pembangkit listrik, pabrik-pabrik pengolahan dan industri. Teknik yang digunakan Ecospec juga dapat menekan karbon dioksida (CO2) dalam jumlah besar secara simultan.

“Teknologi ini penting bagi industri darat dan laut global,” kata Chew Hwee Hong, Pendiri dan Direktur Utama Ecospec, pada keterangannya, 29 September 2010. “Teknologi ini dapat menghilangkan emisi berbahaya dalam satu proses dan bisa dipasang di segala jenis kapal,” ucapnya.

Sistem yang diberi nama CSNOx tersebut menggunakan air sebagai medium. Tidak hanya mengurangi gas emisi yang ikut menyebabkan perubahan iklim dan polusi udara, proses yang dijalankan CSNOx dicapai tanpa memerlukan bahan-bahan kimia atau bahan-bahan aditif, dan tidak mengakibatkan pengasaman laut, atau pembuatan produk-sampingan yang perlu disimpan dan dibuang. Sumber : • VIVAnews